Godspeed You! Black Emperor: “Luciferian Towers” (2017)

AWAL tahun 2018, saat membahas “pengalaman musikal” yang saya nikmati pada tahun sebelumnya dengan siapa pun, ada tiga penyesalan yang meninggalkan lubang menganga cukup besar di mana dinding-dindingnya penuh dengan luka yang masih segar: (1) melewatkan konser tur empat kota di Pulau Jawa oleh Sandrayati Fay dalam rangka promo EP Bahasa Hati [2017]; (2) berpura-pura…

Payung Teduh: “Ruang Tunggu” (2017)

PENGUJUNG tahun 2017 kemarin, seorang kawan — yang dituakan secara sepihak: Sesepuh Andi Susanto — membagikan kabar tentang Mohammad Istiqamah “Is” Djamad yang memilih untuk memutuskan keluar dari Payung Teduh, diikuti dengan keriuhan (dan, mungkin, kekecewaan macam ditinggal kabur oleh istri) personal terkait kabar tersebut, di salah satu grup WhatsApp suka-suka (yang dibentuk atas-dasar keinginan…

Cari perhatian a la Radiohead

SEJAK pagi tadi saya sengaja memasang lima album Radiohead (Kid A [2000], Amnesiac [2001], In Rainbows [2007], A Moon Shaped Pool [2016], dan OK Computer OKNOTOK 1997 2017 [2017]) di Winamp laptop butut, mengaktifkan mode Repeat: Playlist, dan menyetelnya keras-keras di kandang kontrakan. Menikmati kebersantaian dan kelonggaran. “Radiohead itu band yang suka caper, troy,” sindir…

“Best of 2017”

“Menulis blog musik itu tidak kenal ampun, repot, dan sepi.” — Brendan Telford ENTAH karena dirasuki kekuatan sihir macam apa, saya berpikiran untuk mengawali tahun 2018 ini dengan membikin semacam ringkasan yang merangkum aktivitas ngeblog setahun sebelumnya. Seperti halnya ringkasan-ringkasan pada umumnya, artikel ini berisi tulisan yang saya karang seringkas mungkin tentang musik-musik sedap yang…

Melancholic Bitch: “NKKBS Bagian Pertama” (2017)

“Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way.” — Leo Tolstoy SAYA selalu mengidentifikasi September sebagai bulan horor di Indonesia dan pada tahun ini semakin bertambah seram dan panas: (1) pihak TNI-AD [Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat] menginisiasi pemutaran kembali dan menggelar beberapa acara nobar [nonton bareng] film horor…

Figura Renata: “Figura Renata” (2017)

SAYA masih ingat: pertengahan tahun 2016 lalu, pada satu malam yang dinginnya jahanam dan saya harus melewatinya sendirian di kamar kos pengap 2×3 meter, petikan gitar dari sebuah musik pop minimalis yang disuarakan oleh speaker butut di pojokan kamar kos saya berhasil menghangatkan dan menenangkan apa-apa yang sejak sore sebelumnya terasa dingin dan menggelisahkan. Setelah…

#DaftarPutar, part four: ode to celebrate Si Nyonya Tua

“This dance is like a weapon … of self defense … against the present.” KITA — saya dan kamu — seringkali memulai banalitas hidup harian dengan menikmati sesuatu, salah satunya adalah dengan mendengarkan musik sembari menyesap secangkir kopihitam dan mengisap beberapa batang rokokputih. Itu bisa dianggap sebagai salah satu cara kita untuk memersepsikan sesuatu. Mendengarkan…

The Beatles: “Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band” (1967)

SETELAH bebas dari tur konser keliling dunia, The Beatles kemudian berusaha untuk bebas dari diri mereka sendiri, menggarap konsep rekaman musik yang agak gila sebagai grup musik alias. Ide tersebut diwujudkan dalam tiga lagu, dua koda, dan satu sampul album, namun dipertahankan sebagai fitur pengaturan dan metode pemasaran utama dari album bertajuk Sgt. Pepper’s Lonely…

Broken Social Scene: “Halfway Home” (2017)

“Come right into the sunlight, ‘cause I see their cold eyes, I fear they still grow. You said we’re halfway home, you said survive. Dreams change and I know that I’m gonna die, but I don’t need what I know now; you were beautiful, my love. I see what I wanna hear.” JIKA kamu tidak…

Marmozets: “The Weird and Wonderful Marmozets” (2014)

MENGULAS album debut dari musisi mana pun, bagi saya, adalah momen yang serbarikuh. Sewaktu mengunduh album debut dan kemudian menyetelnya di Winamp laptop butut saya untuk pertama kalinya, selalu ada perasaan yang campur-aduk antara sinisme dan harapan saat perangkat suara mulai melantunkan trek pembukanya: asumsi bahwa album debut itu bakal langsung jatuh ke kubangan mediokritas…

Yume Bitsu: “Golden Vessyl of Sound” (2002)

YUME Bitsu — unit musik shoegaze / post-rock / psychedelic rock asal Kota Portland, Oregon, Amerika Serikat — bereksistensi selama tujuh tahun (1995-2002) di belantika musik dengan merilis empat album, dan tiga dari empat personelnya membagi waktu mereka dengan membikin banyak proyek sampingan: vokalis/gitaris Adam Forkner berkolaborasi menciptakan musik drone-rock surealis bersama Surface of Eceon;…