Radiohead: “Exit Music (For a Film)” (1997)

Wake from your sleep,
the drying of your tears.
Today we escape, we escape.

Pack and get dressed
before your father hears us,
before all hell breaks loose.

BENING sekaligus suwung. Saya bisa merasakannya melayang-layang seolah kehilangan pijakan namun juga penuh keyakinan perihal jalannya. Sang vokalis, lelaki dengan postur relatif pendek bagi ukuran orang-orang Eropa, menyanyikannya seperti hendak meyakinkan bahwa pintu terakhir mereka yang tersisa hanya tinggal penyangkalan terhadap aturan dan kebijaksanaan yang ada, sementara musiknya menggantungkan aroma kepedihan yang tidak juga luruh. Sepenuhnya tragedi.

Exit Music (For a Film), salah satu materi lagu yang ada di album OK Computer (1997) milik Radiohead, sebuah masterpiece pada dekade ‘90an. Lagu ini memang ditulis berdasarkan pada drama tragedi Romeo and Juliet karya paling populer dari sastrawan Inggris zaman Renaisans dan zaman Barok, William Shakespeare. Meskipun begitu, Thom Yorke, vokalis pencipta lagu ini, seperti mempertanyakan motif Shakespeare yang membiarkan sepasang kekasih itu menuju kematian nan memedihkan di akhir cerita. “I saw the Zeffirelli version when I was 13 and I cried my eyes out,” ujar Yorke, saya kutip dari Green Plastic Radiohead, “because I couldn’t understand why, the morning after they shagged, they didn’t just run away. The song is written for two people who should run away before all the bad stuff starts. A personal song.

Saya tentu tidak mengharapkan Shakespeare mengubah apa pun dari kisah pilu itu, sama seperti saya membaca kisah Adolph Spitz dan Thelma, seperti saya melihat Lancelot tidak pernah berhasil mendapatkan Guineverre, seperti saya menyaksikan Paris gagal mendapatkan Helen yang kembali ke pelukan Menelaus dan menyisakan Kota Troy terbakar habis rata dengan tanah, atau Tristan dan Isolde, atau masih banyak lagi. Tragedi merupakan bagian dari hidup, tuan dan puan.

Ihwal kisah cinta dengan akhiran … dan mereka akhirnya hidup bahagia selama-lamanya” mungkin memang hanya milik kisah-kisah pasca-Hans Christian Anderson. Namun apakah yang “bahagia” itu? Bahkan filsuf seperti Friedrich Nietzsche dan Immanuel Kant pun tidak juga mampu mengetahuinya. Bagi Kant, sarana untuk kebahagiaan tidak bisa jelas diketahui oleh siapa pun. Kant yakin dan percaya bahwa ada terlalu banyak ambiguitas dalam mendefinisikan kebahagiaan personal. Tidak ada satu makhluk hidup pun yang benar-benar merasakan persis sama dari sebuah pengalaman — dengan kata lain: satu hal yang membikin seseorang bahagia belum tentu memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Bagi Kant, satu-satunya yang bisa dijadikan pedoman hanyalah niat baik, peduli setan apakah hal itu menghasilkan kebahagiaan atau tidak. Pemikiran Kant itu kini dikenal dengan “etika niat baik”.

Namun, bahkan ketika kebahagiaan telah sedemikian sumir dan banal, saya toh masih tetap mengharapkannya di balik semua tragedi, seperti Yorke yang mengharapkan Romeo dan Juliet tidak berakhir dengan air mata. Saya pikir kita sebagai manusia masih bergulat sebisa-bisanya untuk menghindar dari hal yang meresahkan dan memilukan, serta mencari-cari akhir cerita seperti dongeng pengantar tidur atau kisah-kisah (murahan) FTV. Atau mungkin kita — saya dan kamu — bisa meneladani Sisifos? Setidaknya Sisifos sebagaimana dilihat kembali oleh Albert Camus dalam esainya yang berjudul The Myth of Sisyphus. Ketika hukuman paling menyedihkan dan membosankan macam terus-menerus mendorong batu ke atas bukit dan kemudian batu itu menggelinding ke bawah, lalu didorongnya kembali batu itu ke atas, lagi dan lagi, Sisifos yang menjalani hukuman itu bagi Camus pada akhirnya menciptakan pertalian antara dirinya dan batu itu. Bagi Camus, ketika Sisifos memilih untuk menolak terhinakan oleh Zeus yang menghukumnya dan menganggap pilihan mendorong batu itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya, bahwa dia lebih kuat dan lebih keras dari batu hukuman itu, maka dia adalah Sisifos yang berbahagia. Kita harus membayangkan Sisifos yang berbahagia, ujar Camus, yang secara radikal menjadikan hukumannya sebagai media untuk mempersetankan dan merendahkan mereka yang menghukumnya. Menjadi tragis tanpa kesedihan!

Exit Music (For a Film) diakhiri dengan kalimat cinta paling subversif: “You can laugh | a spineless laugh || We hope your rules and wisdom choke you || Now we are one | in everlasting peace || We hope that you choke | that you choke.” Dengan seloroh humor hitamnya yang khas, Yorke seperti ingin menunjukkan bahwa siapa bilang Romeo dan Juliet tidak bisa balik melecehkan kemapanan sebuah kebahagiaan? Bukankah ketika kebahagiaan tidak bisa ditetapkan sebagai “yang itu” dan “yang ini”, seperti kata Kant, maka itu berarti saya bisa merasakannya melalui pengalaman apa pun juga, bahkan yang paling miris sekali pun! Bahkan di hadapan hukuman yang tidak berujung, saya masih memiliki kebebasan untuk mempersetankannya dan menjadikan itu semua hanya sekadar bagian dari hidup yang bakal membikin saya lebih kuat, lebih tajam memandang dan memaknai hidup.

Dan pada akhirnya, kita dapat memilih untuk mengakhiri tragedi dengan tangisan tidak berkesudahan perihal betapa buruknya hidup ini, atau dengan kebanggaan bahwa sampai pada titik akhir, kita tidak memundurkan kaki setapak pun darinya. Dan kebanggaan semacam itu, tentunya, tidak dimunculkan dari fatalisme yang pasrah menerima nasib apa adanya, namun lahir dari keberanian untuk mengafirmasi kehidupan seutuhnya.

Amor fati: yang tragis dan yang manis.

Tabik! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s