Efek Rumah Kaca: “Pasar Bisa Diciptakan” (2015)

UNIT musik bernama Efek Rumah Kaca yang digawangi oleh Cholil Mahmud, Akbar Bagus Sudibyo, dan Adrian Yunan Faisal terbentuk pada tahun 2005 silam dengan dua rilisan album bertajuk Efek Rumah Kaca (2007) dan Kamar Gelap (2008). Saya sudah lupa di mana dan kapan pertama kalinya mendengarkan lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca, namun yang masih jelas saya ingat sekarang adalah bahwa saya langsung tersesat, terbius, dan akhirnya menyukai mereka. Pemilihan tema unik untuk menyentil budaya populer, kesederhanaan yang seringkali mampu dimaksimalkan, keragaman kata demi kata yang digabung dengan begitu puitis, dan eksperimentasi yang tidak kunjung henti dalam setiap karyanya menjadi alasan mengapa saya menyukai serta mengapresiasi Efek Rumah Kaca setinggi-tingginya.

Setelah hiatus selama hampir satu setengah tahun karena Cholil harus pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu, Efek Rumah Kaca menandai tahun ke-10 perjalanan dan comeback mereka dengan merilis single berjudul Pasar Bisa Diciptakan pada tahun 2015 kemarin. Dalam single itu, Efek Rumah Kaca, menurut saya, menjadikan musik sebagai fokus utama eksperimentasi dengan komposisi suara gitar yang dibikin sedemikian rupa hingga terdengar lebih kaya dan semakin berwarna serta dilengkapi dengan rangkaian kata demi kata yang khas mereka: puitis, renyah, dan menyentil.

Ketika Winamp memutar lagu Pasar Bisa Diciptakan, saya sengaja mengaktifkan fungsi Repeat: Track untuk mendengarkannya berulang-ulang yang akhirnya menuntun saya pada sebuah pemahaman bahwa, melalui lagu ini, Efek Rumah Kaca ingin menunjukkan upaya yang selama ini mereka lakukan (dan yang dilakukan oleh manusia pada umumnya) dalam menentang/menyiasati budaya populer tidak selalu berjalan mulus — tidak selalu memiliki ujung yang bahagia. Lagu ini bukanlah sebuah manifesto anti-pasar (atau anti-yang lainnya) melainkan sekadar kiasan perkara susahnya melawan logika pasar — bahwa kita, dengan atau tanpa paksaan, bakal terus berbelanja sampai mampus, misalnya. Mencoba kritis dalam menyikapi budaya populer yang fondasi awalnya berasal dari, dan berwatak, kapitalisme — sementara Efek Rumah Kaca sesungguhnya juga merupakan bagian, dan secara tidak langsung turut serta menguatkan, kebudayaan itu sendiri — bukanlah perkara mudah.

Seiring dengan waktu, kita sudah tidak sekeras dulu,” ujar Cholil, saya kutip dari Kanal Tigapuluh. “Masih ada api itu tapi kami ingin lebih kalem. Kita ingin lebih tenang dalam meneriakkan sesuatu. Banyak lirik yang akhirnya diganti karena kami merasa sudah tidak sesuai lagi. Yang jelas, ‘Pasar..’ dibuat untuk kami sendiri, tidak ada rencana untuk membuat manifesto atau apa pun itu. Ini hanya cermin kegelisahan kami.

Tidak, saya tidak ingin bilang bahwa Efek Rumah Kaca adalah sebuah hipokrit yang tumbuh semakin subur dewasa ini, melainkan mereka hanya ingin terus berkarya dengan jujur sejujur-jujurnya. Sebab, pada akhirnya, saya menyadari bahwa Efek Rumah Kaca bukanlah Zarathustra yang turun gunung dari tempat pertapaannya untuk meneriakkan tuduhan bahwa manusia sebenarnya telah membunuh tuhan dan menyeret bangkai amis tuhan untuk diperjual-belikan di pasar.

Yang jelas adalah bahwa Efek Rumah Kaca memang masih belum ingin menyerah. Dan begitu pula kita — saya dan kamu — kan, sayang? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s