Efek Rumah Kaca: “Sinestesia” (2015)

PADA pertengahan Desember tahun kemarin, ketika 2015 sudah bersiap menutup dirinya sendiri bersama segala macam kenangan yang telah terlewati, Efek Rumah Kaca — unit musik yang digawangi oleh Cholil Mahmud, Akbar Bagus Sudibyo, dan Adrian Yunan Faisal — merilis album ketiganya dalam tajuk Sinestesia tanpa pengumuman, tanpa ingar-bingar, tanpa perayaan yang dilebih-lebihkan. Ini merupakan album penuh Efek Rumah Kaca yang pertama sejak merilis Kamar Gelap pada tahun 2008 silam. (Sebelumnya, Efek Rumah Kaca telah terlebih dulu membagi secara gratis lagu Pasar Bisa Diciptakan pada 10 Juli 2015.)

Di album ketiganya ini, Efek Rumah Kaca menyajikan enam materi lagu yang diberi judul aneka warna (Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, dan Kuning) dengan musikalitas yang telah mengalami perubahan dan perkembangan jika dibandingkan dengan dua album terdahulu, dan keenam lagu itu memiliki durasi panjang. Jingga menjadi lagu dengan durasi paling panjang (13 menit 28 detik), sedangkan materi yang berdurasi terpendek adalah Hijau dengan tujuh menit 46 detik.

Putih dan Kuning adalah materi lagu favorit saya di album ini. Kuning yang memiliki tiga subjudul (“Keberagamaan”, “Keberagaman”, dan “Leleng”) menyindir kaum agamis bebal yang mengklaim berjuang di jalan tuhan dengan meniadakan hati nurani dan akal untuk memberangus harmoni perbedaan, sementara Putih (“Tiada” dan “Ada”) adalah semacam memento mori yang mengingatkan bahwa ada “yang lebih abadi” di balik setiap kegembiraan yang dirasakan oleh manusia: kematian.

Ada amarah yang selalu dijaga oleh Efek Rumah Kaca dalam setiap karya yang mereka bikin, dan kali ini mereka menyampaikannya dengan cara yang lirih meski masih tetap terasa kuat dan elegan. Sinestesia adalah karya musik yang tulus dan jujur, serta menjadi bukti bahwa Efek Rumah Kaca memang masih belum mau untuk menyerah: mereka masih garang dan galak perihal berbagai isu sosial yang telah dan sedang terjadi.

Efek Rumah Kaca tidak lagi memainkan musik yang mudah dicerna di album ini. Dengan musikalitas yang telah berkembang serta panjangnya durasi lagu yang berpotensi membikin kuping panas dan lelah, album ini bisa dibilang sebuah perjudian yang bisa saja merampas habis popularitas Efek Rumah Kaca di industri musik Indonesia. Ah, namun Efek Rumah Kaca adalah penjudi ulung yang terlampau cerdas untuk hanya sekadar menang.

Menenangkan, kuat, elok, elegan, artistik — sekaligus menyimpan banyak kejutan yang menyenangkan. Semacam senja yang teramat melodius. []

* * * * *

— Daftar Lagu Sinestesia
1) Merah: “Ilmu Politik”, “Lara Di Mana-mana”, “Ada-ada Saja
2) Biru: “Pasar Bisa Diciptakan”, “Cipta Bisa Dipasarkan
3) Jingga: “Hilang”, “Nyala Tak Terperi”, “Cahaya, Ayo Berdansa (Instrumental)
4) Hijau: “Keracunan Omong Kosong”, “Cara Pengolahan Sampah
5) Putih: “Tiada”, “Ada
6) Kuning: “Keberagamaan”, “Keberagaman”, “Leleng (Instrumental Suku Dayak Kenyah, Samarinda)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s