Belle and Sebastian: “Girls in Peacetime Want to Dance” (2015)

TUJUH tahun adalah periode lamanya waktu vokalis Belle and Sebastian, Stuart Murdoch, menderita sindrom kelelahan kronis, sebuah penyakit menyusahkan yang tidak bisa disembuhkan dengan penanganan medis yang sepele. Sindrom kelelahan kronis membikin penderitanya merasa lelah sepanjang waktu, namun tidur atau istirahat tidak banyak membantu untuk menghilangkannya; penderita sindrom ini tidak sanggup melakukan pekerjaan satu pun karena merasa tidak memiliki cukup energi untuk hanya sekadar menggerakkan badan membikin secangkir kopi hangat di pagihari. Tujuh tahun merupakan rentang waktu yang dibutuhkan Murdoch untuk memahami penyakitnya itu.

Ketika saya membayangkan penderitaan dan betapa putus-asanya penderita sindrom kelelahan kronis, saya mulai memahami mengapa Murdoch menyebut bahwa Nobody’s Empire — mater pembuka dalam album kesembilan Belle and Sebastian bertajuk Girls in Peacetime Want to Dance di mana Murdoch bernyanyi tentang kesendirian yang dialaminya saat menderita sindrom kelelahan kronis — adalah lagu paling personal yang pernah dia tulis. Itu bukanlah pernyataan remeh-temeh jika saya mengingat kembali reputasi Belle and Sebastian di dunia industri musik. Belle and Sebastian telah menegaskan etos mereka dalam judul lagu pembuka (The State I Am In) di album debut, Tigermilk, pada tahun 1996 dan mereka telah menghabiskan dua dekade untuk menguatkan klaim sebagai grup musik indie pop/rock paling sensitif: kumpulan orang kudus pelindung lamunan remaja. Materi di album pertama Belle and Sebastian terdengar cukup lembut, dan bertahun-tahun setelahnya, mereka secara perlahan menambahkan tekanan dan mencoba menjadi “unit musik sungguhan”, menerjemahkan dan membawa estetika mereka ke tingkat yang dianggap lebih “serius”.

Dalam Girls in Peacetime Want to Dance, Belle and Sebastian menambahkan ide baru dengan menulis sebuah album musik yang mencoba untuk menjadi pop qua pop, mengisinya dengan synthesizer dan irama dansa untuk membujuk orang-orang agar mau bergoyang. Bahkan artwork album ini pun berbeda dari biasanya: ini merupakan cover pertama Belle and Sebastian yang tidak menggunakan fotografi monokromatik. Album ini diproduksi oleh Ben H. Allen III yang mendorong Belle and Sebastian untuk berani mengambil risiko. Hasilnya? Belle and Sebastian cukup percaya diri untuk melangkahkan kaki ke jalur pro forma P-funk di lagu The Party Line dan polka singalong di The Everlasting Muse tanpa menghilangkan kegemaran mereka kepada karya literatur: ada nama karakter fiksi seperti Sherlock Holmes dan Moriarty dalam lirik The Power of Three, sementara lagu riang Play for Today memadukan teriakan “Author, author! Author, author!” dari kombinasi vokal Murdoch dan Dee Dee Penny.

Lagu Enter Sylvia Plath mencoba menggabungkan dua dunia Belle and Sebastian dengan tulang belakang berirama rapuh, membikin materi ini menjadi lagu pertama mereka yang mungkin saja kamu dengar di diskotik kota metropolutan. Ever Had a Little Faith? dan The Cat with the Cream adalah lagu klasik khas Belle and Sebastian, materi yang terdengar cukup lembut di mana Murdoch bernyanyi tentang kenangan masa kecilnya dan keindahan hari saat hujan turun. Suara piano yang berdenting selama outro di materi Ever Had a Little Faith? merupakan melodi menyenangkan untuk detail nostalgia romantik. Begitu juga dengan Nobody’s Empire yang merupakan lagu autobiografi terang-terangan dengan Murdoch menyanyikan lirik yang mengenang masa yang telah lalu diiringi keriangan melodi musiknya.

Dalam sebuah wawancara dengan The Daily Beast, Murdoch berharap dia adalah “Carole King muda yang bekerja di Gedung Brill” di mana banyak lagu pop terkenal ditulis di sana. “I see no reason why that music can’t be possible again,” ujar Murdoch, “but I look around and don’t see it. Sophisticated, nuanced, melodious pop music, that sweeps you away. Occasionally I hear something that’s great, but it’s very rarely in the pop charts. So I want to produce that music.” Kalimat itu merupakan gambaran ideal Murdoch tentang musik pop setengah abad yang lalu, sekaligus juga sindirannya terhadap tangga lagu Top 40 saat ini yang dianggapnya terlampau hedonistik. Hal ini aneh, jika bukan ironis, sebab bagi saya Belle and Sebastian sudah mengambil kesempatan yang sama ketika menulis album musik pop Dear Catastrophe Waitress (2003) dan The Life Pursuit (2006) dengan materi singalong romantis macam I’m a Cuckoo dan The Blues Are Still Blue di mana kedua lagu itu lebih mengesankan ketimbang apa-apa yang ada di Girls in Peacetime Want to Dance.

Dan, siapa yang tahu: mungkin Girls in Peacetime Want to Dance adalah sebuah album musik yang ingin mengajarkan seseorang tentang sukacita dan kegembiraan. Jika bukan itu maksudnya, anggap saja ini merupakan album yang berisikan kumpulan materi untuk mengenang masa lalu yang menyenangkan dengan sisipan melodi pop-dansa di sana-sini. Salah satu perempuan imajiner Murdoch menyuruhnya untuk “be popular, play pop … and you will win my love” di lagu The Everlasting Muse yang terdengar seperti inspirasi mulia namun berakhir dengan kegagalan untuk mewujudkannya. Kamu tidak bakal bisa memenangkan siapa pun (atau apa pun) dalam hidup ini hanya dengan memainkan lagu pop, atau hanya dengan memutuskan untuk menjadi pop. Dibutuhkan sesuatu yang lain agar bisa memenangkan seseorang dalam hidup: sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan pernyataan receh yang sering diumbar oleh musik pop. Untuk sebuah grup musik yang dicintai karena menulis materi lagu dari hati, album ini terdengar seolah Belle and Sebastian terjebak cukup lama dalam kekalutan yang ada di batok kepala mereka sendiri. []

* * * * *

— Daftar Lagu Girls in Peacetime Want to Dance
1) Nobody’s Empire
2) Allie
3) The Party Line
4) The Power of Three [Sarah Martin on lead vocals]
5) The Cat with the Cream
6) Enter Sylvia Plath
7) The Everlasting Muse
8) Perfect Couples [Stevie Jackson on lead vocals]
9) Ever Had a Little Faith?
10) Play for Today [featuring Dee Dee Penny]
11) The Book of You
12) Today (This Army’s for Peace)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s