#DaftarPutar, part two: acquiesce anything that has passed

DESEMBER sudah nyaris habis. Kontemplasi coba dilakukan, resolusi kemudian dikoar-koarkan. Semuanya bertekad menjadi pribadi yang baru dan lebih baik dari sebelumnya, namun sepertinya tidak ada yang cukup berani (atau sinting) untuk mencoba menjadi berbeda dari kebanyakan, untuk sesekali melenceng dari kewajaran dan rutinitas harian — meski cuma sebentar saja. Semuanya mencoba melupakan setiap rasa sakit dari kekalahan yang diterima pada tahun ini, untuk kemudian berharap bisa menampung kemenangan yang dijanjikan oleh para wakil tuhan di atas Bumi. Sementara di pojok-pojok sepi, sepasang vulture telah bersiap menyantap bangkai apa pun yang telah dihajar sedemikian buruknya oleh kenyataan.

Entahlah. Yang jelas, saya sudah merelakan kekalahan Juventus di ajang final Supercoppa Italiana pada 23 Desember 2016 kemarin dengan melakukan sejumlah kesenangan lain selama satu pekan terakhir ini. Salah satu kesenangan itu adalah mendengarkan musik yang bisa menyegarkan hasrat dan gairah saya, yang mampu menambal-sulam rusaknya emosi saya, selain karena kekalahan Juve itu, juga disebabkan oleh semakin banalnya rutinitas hidup harian saya. Brengsek! Bangsat!

Di sini saya merangkum empat album musik yang mampu menenangkan saya dalam sepekan terakhir:

— Radiohead: “A Moon Shaped Pool” (2016)
Kemarahan politik dan kegelisahan eksistensial selalu mampu diubah oleh Radiohead menjadi keindahan struktur melodi di setiap karya musik yang mereka ciptakan — tidak terkecuali dalam album art rock superkeren mereka yang bertajuk A Moon Shaped Pool ini. Banyak yang bilang bahwa album ini adalah ekspresi kesedihan Thom Yorke, sang vokalis dengan postur relatif pendek bagi ukuran orang Eropa, setelah berpisah dengan kekasihnya, Rachel Owen, di mana mereka berdua telah menjalin hubungan asmara selama 23 tahun. (Yang lebih mengejutkan sekaligus menyedihkan adalah Owen meninggal dunia pada 20 Desember 2016 kemarin di usia 48 tahun karena kanker.) Album ini menawarkan relaksasi yang lebih konvensional dengan kebanyakan liriknya membahas tentang penerimaan, penyesalan, merelakan, memaafkan, kehilangan, dan cinta. Dan, bagi saya, ini adalah album Radiohead yang paling romantis dan manis: semanis pagihari dengan rokokputih, kopihitam, dan kamu puan betina kesayangan.

I won’t get heavy
don’t get heavy
keep it light and keep it moving
I am doing no harm.

As my world comes crashing down
I’m dancing
freaking out
deaf, dumb, and blind.

In you I’m lost…

Lagu favorit: semuanya, sebab yang bikin album ini adalah Radiohead!

— Daughter: “Not to Disappear” (2016)
Baru awal bulan Desember ini saya mengenal Daughter setelah mengklik video mereka tampil secara live di Radio KEXP di situs video sejuta umat, YouTube, pada satu pagi yang dinginnya keterlaluan. Saya cuma membutuhkan waktu kurang-lebih lima menit untuk jatuh hati dengan kombinasi dari musik suwung yang mengabarkan aroma kepedihan, baris lirik yang jujur dan menyayat jantung, dan suara vokal magis Elena Tonra yang, duh gusti kanjeng ratu, jahanam betul kedengarannya di telinga. Saya kemudian mengunduh album terbaru Daughter, Not to Disappear, yang berisikan sepuluh materi elegan penuh dengan spektrum emosional dan saya sepenuhnya sadar serta rela hanyut dalam pengaruh sihir kelamnya. Di tangan Tonra, Igor Haefeli, dan Remi Aguilella, kesuraman dan patah hati diubah sedemikian rupa menjadi sesuatu yang seksi dan membius. Rasanya seperti menyeruput kopi buatanmu, betina, yang tidak pernah pas takarannya untuk kemudian kamu menebusnya dengan kecup dan senyum manja.

I have lost my children
I have lost my love
I just sit in silence
let the pictures soak, out of televisions.

And they’re making children
everyone’s in love
I just sit in silence
let the pictures soak.

Lagu favorit: Doing the Right Thing, New Ways, dan Mothers.

— Sigmun: “Crimson Eyes” (2015)
Crimson Eyes dari Sigmun yang dirilis tahun 2015 kemarin adalah album musik yang rumit dan mengerikan, sekaligus juga indah dan bikin melongo. Setelah pertama kali mendengarkan EP kedua mereka tahun 2013 lalu, saya langsung takut, segan, minder, dan iri! Apa lacur? Empat orang (Pratama Kusuma Putra, Nurachman Andika, Mirfak Prabowo, dan Haikal Azizi) ini bisa sebegitu kerennya membikin musik rock yang disuntik dengan suplemen psychedelic dan progressive untuk kemudian menghadirkan intimidasi menakutkan yang membikin saya minder sekaligus terlena. Album ini sungguh brengsek, mengerikan dan — pada saat yang bersamaan — menggairahkan: seperti ketika kamu, puan, dengan sengaja mengulur-ulur waktu untuk memasak sayur sop andalan, padahal kamu tahu bahwa cacing yang ada di dalam perut proletar saya sudah memberontak tidak keruan; setelah pada akhirnya semangkuk sayur sup dengan uap mengepul tersaji di meja, saya tahu bahwa penantian saya bakal tergantikan dengan pengalaman yang melenakan.

I am the cancer growing inside your lungs
I am the curse words underneath your tongues.

Oh wretched souls of common men
come on now rise in my command
oh hidden desires of the innocents
come on now rise in my command
oh evil deeds beneath the conscious
come on now rise in my command
oh hungry lust of the masses
come on now rise in my command.

Lagu favorit: The Summoning, Aerial Chateau, dan In the Horizon.

— Cabrini Asteriska Widiantini: “Distance” (2015)
Apa yang lebih menenangkan dan menghangatkan ketimbang mendengarkan suara Asteriska di malam yang dinginnya sungguh jahanam seperti ini?” Saya menulis persis seperti itu dalam ulasan tentang album Distance ini bulan kemarin. Dan usai menonton tim sepakbola kesayangan saya, Juventus, kalah dalam adu penalti melawan AC Milan di final Supercoppa Italiana (dan pada beberapa pertandingan sebelumnya, meski berhasil menang dan menjadi juara musim dingin Serie A Italia 2016/17, Juve terlampau pragmatis; bermain layaknya cecunguk yang takut pada keindahan dan gairah), saya memang membutuhkan sesuatu yang manis macam album dari Cabrini Asteriska Widiantini ini. Album ini manis dan sendu — malah terlampau manis dan kelewat sendu — namun setidaknya bisa menenangkan serta menghangatkan saya setelah menyaksikan Juve kalah di pelataran subuh yang dinginnya sungguh jahanam. Sesederhana itu, ibarat menyeruput kopi jahe dan menyantap pisang goreng yang masih hangat, dan kamu berbisik mesra: “Tenang saja, masih ada aku kok.

“It was time for you to go,” you said
there was nothing I could do
we’ll always have the memories
and I cried when I should have laughed.

Farewell to you, farewell to youth.

Lagu favorit: Farewell to You (th), He Stays Up All Night, dan Secret Getaway.

* * * * *

Almanak 2016 sudah bersiap masuk keranjang sampah. Ikhlaskan saja.

Tabik. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s