Bahwa keheningan hanyalah persepsi

PADA tahun 1952, John Cage — filsuf sekaligus komposer asal Amerika Serikat — melakukan sebuah proyek observasi untuk menjawab rasa penasarannya terhadap konsep keheningan atau kesunyian atau ketiadaan bunyi/suara. Cage melakukan observasi dengan mendatangi tempat-tempat yang diharapkan bisa membuktikan adanya keheningan, namun dia malah mendapatkan hasil yang tidak diharapkannya. Dalam proyeknya itu, Cage menemukan bahwa “keheningan adalah suatu hal yang mustahil”. Proyek observasi ini kemudian mengarah pada penampilan kontroversial dan komposisi avant-garde yang bertajuk 4’33”.

Dalam 4’33” itu Cage hadir di atas panggung dengan tidak melakukan apa pun kecuali duduk diam di depan pianonya sembari menaikkan dan menurunkan tutup piano, menghasilkan bebunyian suara yang tidak disengaja muncul. Hanya itu — dan tepat empat menit lebih 33 detik, Cage menyudahi penampilan panggungnya. Cage, tentu saja, pada saat itu tidak sedang melucu atau melakukan protes atau mengalami krisis paruh-baya atau cuma sekadar mencari sensasi, namun Cage sedang melanjutkan proyek observasinya untuk mempertanyakan dikotomi antara keheningan dan bunyi/suara.

Cage berargumen bahwa dikotomi antara keheningan dan bunyi/suara itu tidak pernah ada, bahwa keheningan sebagai bentuk dari ketiadaan bunyi/suara tidak pernah hadir di tengah-tengah kehidupan — yang ada adalah keinginan manusia untuk mendengar suatu bunyi tertentu, dan mengupayakan perhatiannya terhadap sesuatu yang ingin didengarkan saja. Cage kemudian mendefinisikan keheningan sebagai ketiadaan bunyi/suara yang sengaja dihadirkan atau diharapkan untuk mengada, bahwa keheningan hanyalah sebuah upaya mengakhiri perhatian dan sekadar perubahan persepsi, namun bebunyian suara tetaplah ada di sana. Maka dari itu, keheningan “hanyalah” bunyi/suara yang tidak ingin didengarkan.

(Robert Rauschenberg, seniman lukis asal Amerika Serikat, pada tahun 1953 juga melakukan proyek serupa Cage dengan membikin pameran lukisan yang berisikan sekumpulan kanvas yang sekilas tampak kosong dan masih bersih. Namun lukisan-lukisan dalam pameran tersebut tidak benar-benar kosong, hanya saja Rauschenberg melukis kanvasnya dengan cat putih. Dalam hal ini, Rauschenberg ingin membincangkan persepsi kekosongan yang sebenarnya juga tidak pernah ada. Kekosongan hanyalah persepsi, sama seperti keheningan, titik nol, atau ketidak-berpihakan.)

Upaya untuk mempertanyakan keheningan, kekosongan, dan ketidak-berpihakan kini diteruskan oleh Godspeed You! Black Emperor, kolektif musik post-rock dan eksperimental asal Kanada, dengan karya-karyanya yang terdengar menawan dan indah sekaligus juga suram dan menakutkan. Karya musik post-rock dan eksperimental dari Godspeed You! Black Emperor melukiskan kondisi dunia pasca-apokalips yang kadang terlalu hening dan terlampau berisik dengan durasi lebih dari 15 menitan. Dengan sengaja, Godspeed You! Black Emperor memasukkan keheningan — sepanjang dua-tiga menit, atau terkadang bisa sampai sepertiga dari durasi total — dalam komposisi epik mereka.

Godspeed You! Black Emperor dalam satu wawancara yang langka pernah membahas tentang keheningan sebagai nihilisme, tetapi bukan sebagai posisi ketidak-berpihakan dan peniadaan kehendak untuk memosisikan diri dalam tatanan dunia saat ini. Tidaklah mengherankan jika Godspeed You! Black Emperor lebih memilih untuk membikin musik tanpa lirik sebab kata-kata (atau bahasa) tidak cukup untuk mewakili ide-ide mereka — kata-kata (atau bahasa) malah dianggap memenjarakan ide-ide yang coba mereka sampaikan. Bagi saya — atau mungkin kamu — yang sudah terbiasa dengan “musik yang memiliki pesan (politis) tertentu” dan terjebak dalam dualitas “musik bermuatan politis atau musik tidak politis”, Godspeed You! Black Emperor adalah sebuah paradoks: mereka tidak berbicara layaknya grup musik politis lainnya, namun mereka menyuarakan seruan untuk mengubah dunia yang telah kehilangan harapan menjadi tempat yang lebih layak untuk ditinggali.

Meski begitu, Godspeed You! Black Emperor sama sekali tidak merepresentasikan ketidak-berpihakan atau kenetralan. Ketiadaan lirik/teks dalam karya-karya musik Godspeed You! Black Emperor bukan berarti sebuah kekosongan atau keheningan atau kehampaan objektif. Melalui Godspeed You! Black Emperor, saya bisa merenungkan ulang sebuah posisi subjektif di tengah-tengah pergolakan objektif dalam kerumunan massa. Saya merasa diingatkan kembali pada bentuk keterlibatan lain di dunia saat ini tanpa harus berteriak-teriak di tengah pasar atau ikut bergabung dalam kampanye para elite politik.

Godspeed You! Black Emperor mirip dengan Zarathustra dalam lembaran Thus Spoke Zarathustra karya Friedrich Nietzsche yang mengajak manusia pada kesendirian (bukan kesepian), mengajak untuk keluar dari keseragaman dan konformitas mental kawanan/budak — entah itu penyeragaman atas-nama politik/agama atau komodifikasi atas-nama pasar — agar bisa menemukan kemandirian pada hal-hal penciptaan. Kesendirian (atau kemandirian) yang — meminjam metafora Nietzshce — “menjadi bagian bisu yang intim dari hutan dan karang, serupa ranting pohon yang dengan tenang dan sepenuh hati menjulurkan dirinya ke laut”, bukan sebuah upaya pemisahan dan menutup diri dari persinggungan dengan mereka “yang bukan kita” atau “yang berbeda”.

Seperti halnya keheningan yang masih meyimpan bebunyian suara yang tidak ingin didengar, Godspeed You! Black Emperor mengajak kita — saya dan kamu — untuk melihat kembali (atau, jika memungkinkan, membikin) alternatif lain di luar posisi dualitas atau hierarki biner yang masih jamak dijunjung saat ini. Terlepas dari kehebohan sensasi genre post-rock dan avant-garde yang dikomodifikasi dan dieksploitasi oleh media hiburan arus utama hari ini, musik yang ditulis oleh Godspeed You! Black Emperor merepresentasikan bunyi/suara akhir zaman untuk kemudian mulai membangunkan generasi yang sudah terlalu muak dengan demokrasi kotak suara dan terlampau lelah dengan apatisme dari tidur panjangnya. Sebab keheningan atau kekosongan cuma sekadar (pengalihan) persepsi dan Netral sudah berganti nama menjadi NTRL. Akan tiba masanya ketika banalitas harian membikin letih dan kita — saya dan kamu — bakal berteriak dengan lantang dan penuh kelegaan: “Aku sendirian! Rekahlah! Raihlah! Nikmatilah!

Jiwa-jiwa bebas bakal merayakan kesendirian dan kegembiraannya dengan sebuah balada dan tarian senjakala. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s