Explosions in the Sky: “The Wilderness” (2016)

KETIKA membincangkan hal-hal megah di blantika musik, Explosions in the Sky merupakan salah satu jenis band yang selalu ada di pikiran saya. Ada semacam kemegahan dalam setiap lagu yang dibikin oleh Explosions in the Sky, begitu juga dengan unit musiknya sendiri: tiket pertunjukan mereka di Radio Music City Hall atau ruang konser yang lebih besar selalu habis terjual, suatu hal yang cukup mengejutkan bagi ukuran unit musik rock tanpa vokalis; mereka pernah menggarap soundtrack sejumlah film (salah satunya film Friday Night Lights [2004]) dan lagu-lagunya muncul di puluhan acara televisi. Namun album keenam Explosions in the Sky bertajuk The Wilderness, koleksi non-soundtrack pertama sejak merilis Take Care, Take Care, Take Care (2011), terasa lumayan “kecil”. Dengan pergeseran dan pengalihan pandangan ke arah hal-hal kecil, Explosions in the Sky ternyata masih mampu menciptakan sesuatu yang megah melalui cara yang berbeda, dan ini adalah album musik terbaik dalam kanon mereka sejak The Earth Is Not a Cold Dead Place (2003).

Sama seperti The Earth Is Not a Cold Dead Place, The Wilderness memberi saya citra lanskap alam, namun bukan mengajak untuk berbaris menuju cakrawala yang luas di ufuk barat; rasanya seperti diajak bertualang mencari tempat perlindungan untuk menghindari gigil dan dingin yang jahanam. Klimaks kenikmatan dan puncak keindahan hadir ketika saya mendapati diri sedang merenungkan semacam gumpalan suara atau detail elektronik yang nyaris sunyi di album ini. Pada saat pertama kali mendengarkannya, The Wilderness terdengar seperti bisikan; setelahnya, detail album ini semakin tumbuh dan beresonansi. Hal ini seumpama mengambil istirahat sebentar dalam pendakian gunung dan menyadari betapa banyak suara indah yang ada di dalam keheningan sekitar. Explosions in the Sky sudah terbentuk sejak 1999, dan saya merasa mereka sedang mencari jalan baru untuk mencapai tujuan awal mereka.

Secara keseluruhan, lagu-lagu di album ini terasa tersegmentasi dan mandiri, komposisi musik yang benar-benar berdiri sendiri, bukan hasil dari potongan-potongan yang disatukan secara serampangan. Explosions in the Sky kembali lagi ke distorsi drum yang kadang terdengar seperti gema di dalam gua, di bagian lainnya terdengar seperti tanah longsor, sementara suara gitarnya terdengar presisi dan bersih. Gabungan antara suara-suara elektronik yang canggih dengan ketenangan dramatis.

Disintegration Anxiety, yang dibuka dengan suara bercacah, merupakan materi terbaik di album ini, dan Explosions in the Sky tidak terburu-buru menyajikannya; ini adalah lagu kelima dari total sembilan lagu yang ada di dalam album ini. Ada kenangan masa lalu yang mendadak bangkit, serta perasaan rindu dan kegelapan yang indah di lagu tersebut. Saya juga menemukan atmosfer yang sama pada Losing the Light: lagu paling tenang di album ini, hampir menyerupai karya klasik Godspeed You! Black Emperor, serta rasa-rasanya seperti menjelajah dalam kegelapan gua dan akhirnya sampai pada kumpulan berlian yang membantu menerangi jalan.

Komposisi musik dalam The Wilderness tidak “bergerak” seperti dalam kebanyakan karya-karya Explosions in the Sky sebelumnya — kali ini terasa seperti meditasi dan tidak keberatan untuk tinggal lebih lama dalam satu tempat. The Ecstatics, misalnya, menyelaraskan drum elektronik dan suara clean gitar, dan bergerak dalam tempo lambat dengan bebunyian synthesizer dingin yang terdengar seperti desisan lembut aliran air di dalam gua. Ada momen-momen ceria, seperti Tangle Formations dan Infinite Orbit, yang pada awalnya terkesan amorf dan ambient sebelum tiba-tiba terbakar dalam sukacita. Dan saat semua itu akhirnya terbuka, efek yang diberikan benar-benar memukau.

Karena Explosions in the Sky telah menggarap banyak soundtrack film, sangat sulit untuk tidak membayangkan rangkaian adegan film yang bisa diiringi dengan lagu-lagunya ketika mendengarkan album ini. Saya memutar-ulang momen-momen dramatis, yang tragis dan yang manis, yang pernah terjadi di sepanjang hidup saya sampai detik ini: ketenangan dan puji syukur untuk semesta saat melihat sang kekasih tidur di sebelah saya, senja melodius pada satu sore di bulan Oktober, kekonyolan demi kekonyolan pada masa remaja, kecupan pertama dengan sang kekasih, berjalan sendirian saat fajar masih setengah menggantung di ufuk timur, irisan momen di mana impian indah mendadak berubah menjadi mimpi yang paling buruk, keheningan tengah malam dengan menyesap secangkir kopihitam, gigil jahanam dan kebekuan mengerikan ketika pertama kali mendengar kabar kematian ayah saya, bisikan mesra sang kekasih yang setengah terdengar untuk membangunkan saya di pagihari, berbaring telentang bersama sang kekasih di tepi kasur sembari mengisap rokokputih dan melihat langit-langit kamar kos. Lagu-lagu dalam album ini terasa sangat personal: mereka mampu menarik kembali dan memutar-ulang berbagai macam momen penting dalam hidup saya.

The Wilderness merupakan karya musik yang brilian dan kaya secara emosional. Pada akhirnya, dari semua rekaman yang pernah dibikin oleh Explosions in the Sky, album inilah yang paling mirip dengan citra yang ingin disampaikan oleh nama band mereka: supernova di langit utara dan saya melihat auroranya dari kejauhan di selatan, sembari merangkul erat sang kekasih untuk memastikan bahwa kami baik-baik saja.

(Lalu yang tersisa, yang bisa dilakukan, setelahnya adalah memberinya makna agar ia tidak sekadar menjadi momen peristiwa yang tidak berjiwa.)

Sambil terus mencari tahu, sembari merayakan kehidupan. []

* * * * *

— Daftar Lagu The Wilderness
1) Wilderness
2) The Ecstatics
3) Tangle Formations
4) Logic of a Dream
5) Disintegration Anxiety
6) Losing the Light
7) Infinite Orbit
8) Colors in Space
9) Landing Cliffs

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s