Paramore: “After Laughter” (2017)

HAYLEY Williams paham bagaimana caranya memainkan peran sebagai seorang penakluk yang selalu ceria. Bahkan ketika menyanyikan kemarahan, pengkhianatan, dan kekecewaan pada tahap yang lebih besar dan dalam video technicolor selama 13 tahun terakhir, Williams selalu berhasil memproyeksikan ketenangan, gairah, dan senyum anak kecil dengan cara yang menyenangkan. Sejak masih remaja, Williams telah membawakan kecemasan pop-punk dengan keramahan seorang pengawas kamp musim panas: dia tersenyum, melompat-lompat kesana-kemari, dan sepenuhnya memegang kendali. Namun dalam video klip terbarunya, Hard Times single pertama dari album kelima Paramore, sebagian dari deskripsi saya tentang Williams itu telah memudar.

Video klip Hard Times dibuka dengan adegan Williams keluar dari sebuah mobil yang terdampar di panggung pertunjukan yang dihiasi awan kapas, dengan raut wajah keheranan. Tidak lama kemudian, sebuah mikrofon diletakkan di depan Williams, dan dia mulai bernyanyi dan menari dalam keriangan irama new wave. Namun tidak semua hal terlihat baik-baik saja. Ketika Williams mengernyitkan giginya pada satu momen, hal itu lebih menyerupai seringai kegilaan ketimbang tanda-tanda keceriaan: sebuah senyum kecut dari perjalanan rock and roll yang telah dilaluinya selama ini.

Sejauh ini, Paramore telah mengalami momen bongkar-pasang personel lebih dari cukup untuk menjadikannya headline media-media musik dan memperpanjang halaman profil mereka di Wikipedia — sebab pada dasarnya, selama Paramore masih berkarier di blantika musik, bakal selalu ada gosip tentang Williams yang ingin bersolo karier, atau bahkan bagi beberapa orang, Paramore lebih dikenal sebagai “Hayley Williams and Some Other Guys”. Meski dua personel awal Paramore (Zac dan Josh Farro) memutuskan keluar dari band dan merengek tentang status mereka pada tahun 2010, saya masih bisa bilang — dengan berpegang pada gagasan untuk mengembangkan sebuah unit musik rock bersama sahabat karib (bukan konsep paling berani dalam era Pro Tools) — bahwa Williams-lah yang telah melakukan pengorbanan paling besar. Jadi, setelah bertahun-tahun menjaga sinar terang dan aura Paramore, Williams kini mencoba meninjau-ulang hidupnya dan melepaskan senyum cerianya dalam After Laughter.

Semuanya tampak super-aneh di sini. Namun seiring dengan tema yang menyoroti renungan Williams yang sedang gundah-gulana, album ini merupakan karya musik Paramore yang paling menyegarkan dan meruah yang pernah mereka rekam. Kualitas dari konsep ekstrem Yin dan Yang ini merupakan pengalaman baru bagi Paramore. Sebelumnya, Josh memimpin muatan musikal untuk tiga album pertama Paramore di mana liukan mengerikan dari distorsi gitarnya mampu mengiringi dan menyeimbangkan jerit kecemasan dan kemarahan Williams; dalam Brand New Eyes (2009), kronik perpisahan Williams dan Josh, suara vokal Williams dan instrumentasi Josh saling tumpang-tindih bertarung untuk memamerkan pendapat dan pandangan masing-masing, menghasilkan ledakan yang megah dan dahsyat. Setelah kepergian Josh, Taylor York mengambil-alih peran lead gitar dalam album Paramore (2013) — di mana Paramore mencoba mencari dan menumbuhkan identitas baru — yang menyentuh ledakan alternative-rock, balada sarat tekad, dan funk-pop di lagu Ain’t It Fun. Setelah itu, Jeremy Davis (pemain bas sejak 2005) memutuskan keluar dari Paramore karena perselisihan tentang kredit penulisan lagu (Davis dan Paramore baru saja menyelesaikan perkara ini) sementara Zac (drumer) bergabung kembali setelah enam tahun berpisah. Semua kejadian ini mungkin terkesan sepele dalam kaitannya dengan pesona dan aura selebritis Williams, namun drama tersebut selalu mampu mendorong teknik penulisan liriknya — dan suara musik Paramore — ke level yang berbeda, meski masih bersifat superfisial, bukan secara struktural.

Dalam After Laughter, York memusatkan inspirasinya pada panteon dan gaya pop-rock era ‘80an. Personel Paramore saat ini (dan juga saya) merupakan generasi yang lahir di akhir ‘80an, dan bagi mereka, dekade ‘80an mewakili sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan — sebuah masa yang dipenuhi irama sederhana dan neon warna-warni dan nuansa yang meriah seperti dalam film The Goonies (1985). Alih-alih berperang dengan kata-kata dalam lirik Williams, musik dalam album ini berperan sebagai tandingan yang berkilau, sebuah garis hidup nostalgia dari satu teman ke teman lainnya. Di lagu Forgiveness, Williams tidak menawarkan apa pun, namun suara gitar York mengisyaratkan penangguhan hukuman di masa depan; Pool menemukan Williams tenggelam di bawah gelombang sementara dencing di sepanjang lagu ini menariknya ke atas permukaan. Materi Grudges mempertemukan komposisi musik dengan pesan yang ada di dalam liriknya, di mana Williams menceritakan detail reuninya dengan Zac. “Are you recounting all my faults? And are you racking your brain just to find them all?” Williams menyanyikannya sembari mengupas celah dalam keretakan persahabatannya. “Could it be that I’ve changed or did you?” dilanjutkan dengan seseorang berteriak “woo!” — atau mungkin “whew!” — dan seluruh band terjatuh ke dalam chorus lagu.

Ketika album ini mulai kehilangan momentumnya, Williams terkesan seperti remaja kurang ajar, terutama untuk ukuran seseorang yang berusia 28 tahun. Lagu Fake Happy dan Caught in the Middle terdengar seperti keluhan receh dari murid SMA, dan materi 26 terasa kelewat cengeng dan egois. Hal yang paling menarik dari album ini adalah tiga lagu terakhirnya di mana Paramore menangani masa lalu dan peran mereka sebagai idola modern dengan cara yang mengejutkan.

Meskipun After Laughter pada umumnya menyoroti Williams dalam mengeksplorasi nuansa suara vokalnya yang lebih lembut, Idle Worship menyajikan kemuakan dan gelora dalam vokalnya ketika dia menolak gagasan heroisme yang begitu sering diproyeksikan kepadanya: “Oh, no, I ain’t your hero. You’re wasting all your faith on me.” Lagu ini mengubah konsep Biblikal tentang penyembahan berhala palsu, bersamaan dengan ketakutan dan kerentanan radikal, menjadi kait yang dibangun untuk dinyanyikan oleh ribuan pengikut bermata lebar dan berambut warna-warni.

Sementara itu, materi No Friend adalah hal paling aneh yang pernah muncul di kanon Paramore. Lagu ini dinyanyikan oleh Aaron Weiss (vokalis MewithoutYou) dalam iringan riff siklis dan nada rewel yang pada dasarnya menceritakan kisah Paramore dengan bahasa yang padat, referensial, dan jujur, yang berpuncak pada deret kalimat yang tampaknya ingin menjelaskan inti dari semuanya: “So let’s make one point crystal clear: you see a flood-lit form, I see a shirt design; I’m no savior of yours and you’re no friend of mine.” Ini adalah upaya Paramore untuk meninjau-ulang kisah mereka, menengok kembali jalur yang telah mereka lewati, mempertanyakan motivasi mereka, dan mengekspos sisi gelap mereka. Sayangnya, kenyataan bahwa suara vokal Weiss terdengar cukup rendah dan pelan membikin kebenaran yang coba diungkapkan oleh lagu ini tenggelam dan sulit untuk dipahami, terkesan seperti komitmen yang pretensius.

Album ini dipungkasi oleh materi Tell Me How dengan cukup manis dan tidak terdengar seperti semua lagu yang ada di sini, atau di kanon Paramore sebelumnya. Dengan alunan piano yang lembut, denyut nadi tropis yang samar-samar, dan kalimat pengakuan yang dirangkai secara hati-hati, materi ini bisa menjadi lagu unggulan dari salah satu rilisan musik alternative-rock saat ini: modern, halus, dan dewasa. Di sini, luka Williams sudah mengering — luka dari sebuah penyesalan, dari kesalahan mengambil keputusan, dari kewajiban/tugas tanpa akhir untuk melangkah ke depan. Tidak ada jawaban yang mudah, tidak ada kambing hitam. Alih-alih membenci seseorang yang telah mengecewakannya, Williams meresponsnya dengan keikhlasan hati: “Tell me how to feel about you now. Oh, let me know, do I suffocate or let go?” Williams tidak sekuat dan seceria yang dulu, dan dia sepertinya merasa baik-baik saja dengan hal itu: dia tidak berpura-pura untuk tetap menjadi seorang penakluk yang selalu ceria seperti dulu lagi dan berusaha untuk mengafirmasi kelemahannya. []

* * * * *

— Daftar Lagu After Laughter
1) Hard Times
2) Rose-Colored Boy
3) Told You So
4) Forgiveness
5) Fake Happy
6) 26
7) Pool
8) Grudges
9) Caught in the Middle
10) Idle Worship
11) No Friend
12) Tell Me How

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s