Bob Dylan: “Triplicate” (2017)

TRIPLICATE merupakan album ketiga yang dirilis oleh Bob Dylan dalam dua tahun terakhir ini. Album ini adalah rekaman musik yang cukup panjang, terdiri dari tiba bagian (“Disc 1 – ‘Til the Sun Goes Down”, “Disc 2 – Devil Dolls”, dan “Disc 3 – Comin’ Home Late”) yang berisikan sepuluh lagu di tiap bagiannya, dan total durasinya mencapai 96 menit. Dylan — seorang penulis lagu sederhana yang kerap dianggap rumit oleh orang-orang selama ini — telah menjelaskan bahwa sepuluh merupakan jumlah penyelesaian, angka keberuntungan, “simbol cahaya”. Sama seperti Shadows in the Night (2015) dan Fallen Angels (2016), album ini bersandar pada materi yang ada kaitannya dengan Frank Sinatra, seorang penyanyi yang tidak memiliki kesamaan apa pun dengan Dylan kecuali kemasyhuran yang mengubah dua lelaki itu menjadi semacam mitos di blantika musik. Beberapa lagu yang ada di album ini — Stormy Weather, Stardust, dan As Time Goes By — sudah cukup terkenal, setidaknya bagi populasi orang-orang tua macam mama saya. Sebagian besar lagu-lagu yang ada di sini ditulis pada hari-hari berkabut masa lalu ketika Dylan masih menggunakan nama Robert Allen Zimmerman.

Aransemen musik dalam album ini dipoles dan diatur dengan cukup cermat: gitar, drum, bas, sesekali terdengar seperti ratapan. Suara vokal Dylan — patah hati dan tidak renyah seperti biasanya, namun masih menawan — terdengar paling bagus di lagu bertempo sedang dan cepat dalam album ini, di mana dia membawa kebijaksanaan dan ketahanan dan cahaya tersendiri, mengilhamkan penerimaan hikmah dari pengalaman hidup yang pahit.

Balada-balada yang ada di album ini, beberapa di antaranya terdengar cukup manis seperti biasanya, sementara sebagian lainnya terasa statis dan membosankan. Sepertinya ada batas tempo dalam album ini di mana lagu-lagunya menjadi semacam pasir apung bagi Dylan yang mengubahnya dari seorang berandalan tua menjadi genangan penyesalan yang membingungkan. (Setidaknya Dylan tidak terdengar cengeng di antara musisi-musisi balada lainnya.) Pengecualian yang cukup mengasyikkan — There’s a Flaw in My Flue, But Beautiful — cenderung terdapat dalam lagu yang liriknya memberikan kesempatan kepada seorang penyanyi untuk menjadi lucu dan kocak, sebuah kualitas di mana Dylan tidak pernah mendapatkan apresiasi yang cukup.

Walau bagaimanapun, kecakapan Dylan — dan ini selalu menjadi ciri khas dan kelebihannya — adalah bukan untuk menyanyikan sebuah lagu dengan baik, melainkan benyanyi secara tepat. Untuk alasan yang sama, siapa pun yang waras tidak bakal mempekerjakan anak kecil berusia tujuh tahun untuk berperan sebagai nenek-nenek, atau memberikan lagu macam Here’s That Rainy Day untuk dinyanyikan oleh musisi yang suara vokalnya garing — hal itu bakal jadi komoditas yang sulit untuk dijual.

Secara tradisional, sebuah album musik seperti Triplicate bakal menjadi cara bagi seorang musisi untuk menampilkan kekuatan interpretasinya terhadap pusaka waktu ketika penulisan lagu dikonsolidasikan di dalam gedung perkantoran dan studio film dan seni populer dipahami — tanpa kecacatan — menjadi pembagian kerja: ada yang menulis, ada yang memproduksi, ada yang memainkan, ada yang menyanyikan. Ironisnya, Dylan menjadi salah satu orang yang menghancurkan tradisi tersebut. “Tin Pan Alley is gone,” ujar Dylan, saya kutip dari Financial Times, mengacu pada metonimia untuk industri penulisan lagu di Amerika Serikat pada era ‘30-‘40an. “I put an end to it. People can record their own songs now.

Pada akhirnya, Triplicate adalah investigasi yang cukup bagus terhadap “Buku Lagu-lagu Amerika Serikat Terbaik” yang memungkinkan orang kaya dan eksentrik — macam Dylan — berjalan-jalan, secara publik, melalui catatan sejarahnya sendiri. Ada orang-orang yang merasakan kehidupan di balik pertunjukan ini, pengalaman pribadi yang dibiasakan melalui sentimen universal, ketukan keras yang ditransformasikan ke dalam kebijaksanaan yang sederhana, namun, seperti yang sering terjadi pada Dylan, drama yang ada di sini sebagian besar masih bersifat internal. Ada sesuatu yang konyol tentang hal itu, sesuatu yang penuh teka-teki, sesuatu yang berkilau dengan transendensi dari gagasan aneh: sesuatu yang “Dylanesque”.

Namun, tetap saja, 96 menit adalah waktu yang teramat panjang dan melelahkan untuk sebuah album pop-tradisional. []

* * * * *

— Daftar Lagu Triplicate

Disc 1 – ‘Til the Sun Goes Down
1) I Guess I’ll Have to Change My Plans
2) The September of My Years
3) I Could Have Told You
4) Once Upon a Time
5) Stormy Weather
6) This Nearly Was Mine
7) That Old Feeling
8) It Gets Lonely Early
9) My One and Only Love
10) Trade Winds

Disc 2 – Devil Dolls
1) Braggin’
2) As Time Goes By
3) Imagination
4) How Deep Is the Ocean?
5) P.S. I Love You
6) The Best Is Yet to Come
7) But Beautiful
8) Here’s That Rainy Day
9) Where Is the One?
10) There’s a Flaw in My Flue

Disc 3 – Comin’ Home Late
1) Day In, Day Out
2) I Couldn’t Sleep a Wink Last Night
3) Sentimental Journey
4) Somewhere Along the Way
5) When the World Was Young
6) These Foolish Things
7) You Go to My Head
8) Stardust
9) It’s Funny to Everyone But Me
10) Why Was I Born?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s