Panic! at the Disco: “A Fever You Can’t Sweat Out” (2005)

DUA puluh tahun yang lalu, siapa yang menyangka emo bisa merebut posisi punk sebagai genre musik untuk para remaja rapuh yang sedang ketakutan. Pada akhir ‘90an, sebagian besar penggemar gelombang pertama dari emo telah meninggalkan genre tersebut. Banyak grup musik emo telah bubar, sementara segelintir yang tersisa bergerak menuju genre pop-rock dengan suara musik yang lebih lugas. Namun emo tiba-tiba muncul kembali dengan ledakan yang cukup besar, melahirkan generasi neo-emo yang generik, lumayan apik, dan laris-manis tanjung-kimpul ketika dijual. Ini semacam bartender yang membiarkan lampu tetap menyala dan memutuskan untuk membiarkan klub/bar tetap buka sampai sianghari dengan hanya menyajikan minuman bersoda. Dan A Fever You Can’t Sweat Out yang dirilis oleh Panic! at the Disco muncul pada momen semacam itu.

Beberapa hari yang lalu, saya dan seorang kawan bernostalgia dengan membincangkan musik dari band-band yang mengiringi pertumbuhan masa remaja kami di kampung halaman, salah satunya adalah Panic! at the Disco. Kami mengenang rekaman-rekaman musik lawas dengan manis dan mencerca habis-habisan album-album anyar yang kami pikir sudah terlampau keluar jalur dan tidak bisa memuaskan hasrat kuping dan hati kami berdua. Setelahnya, saya sengaja memasang A Fever You Can’t Sweat Out ini di Winamp laptop butut saya dan mendengarkannya demi mendapatkan romantisme masa lalu yang beberapa di antaranya sudah terkikis menguap entah ke mana. Namun, sialnya, alih-alih romantisme manis, saya malah mendapatkan rasa mual yang tidak mengenakkan di perut saya. Bagaimana caranya menggambarkan tumpukan sampah yang mengepul ini?

Kamu mungkin sudah pernah melihat dan mendengar nama (band dan albumnya) yang konyol, jadi izinkan saya mengenalkan beberapa judul lagu yang ada di dalamnya sebagai perbandingan. Track kedua di album ini berjudul The Only Difference Between Martyrdom and Suicide Is Press Coverage dan diikuti oleh London Beckoned Songs About Money Written by Machines. Jika dua judul itu masih belum mampu meninggalkan kesan tolol dan melelahkan di pancaindramu, coba periksa I Write Sins Not Tragedies atau Lying Is the Most Fun a Girl Can Have Without Taking Her Clothes Off atau There’s a Good Reason These Tables Are Numbered Honey, You Just Haven’t Thought of It Yet.

Namun, tentu saja, judul-judul lagu (dan nama band-nya sendiri) yang terkesan tolol itu tidak sebanding dengan ketololan dari materi sebenarnya yang ada di album ini. Suara banal yang dihasilkan dari kombinasi gitar, drum, dan bas — ditambah dengan ketukan drum machine dan sentuhan synthesizer aneh — terdengar meraung-raung tidak jelas dan tergesa-gesa, semacam kebisingan memuakkan yang sering didapat ketika berada di tengah-tengah keramaian pusat perbelanjaan. Album ini diproduksi dengan kurang cermat dan terlalu banyak polesan tidak penting di sana-sini. Suara vokal Brendon Urie yang penuh gelora malah terdengar begitu tegang dan kaku, seolah-olah dia mengalami patah hati — atau kejadian buruk lainnya — setidaknya satu kali tiap harinya. Dan hal itu menjadi semakin buruk ketika Urie mencoba menambahkan beberapa efek mewah pada satu atau dua lagu yang membikinnya terdengar seperti sedang bernyanyi dalam keadaan lehernya dicekik oleh seorang ahli karate.

Sementara lirik-liriknya cuma sekadar kumpulan kata-kata sakit hati remaja yang tidak jelas. Dalam lagu Camisado, Urie mengeluhkan “you’re a regular decorated emergency; the bruises and contusions will remind me what you did when you wake” dengan suara vokal yang meluncur ke sebuah falsetto tidak nyaman sementara efek suara piano elektronik mengiringi di belakangnya. Dalam Time to Dance, sebuah materi yang menggunakan metafora “senjata-sebagai-sebuah-kamera” yang tanpa makna, Urie mengayunkan lirik “when I say ‘Shotgun’, you say ‘Wedding’; ‘Shotgun’, ‘Wedding’, ‘Shotgun’, ‘Wedding’” dan “give me envy, give me malice, give me your attention; give me envy, give me malice, baby, give me a break!”. Hell yeah, Urie: kamu dan saya memang butuh istirahat yang cukup, apalagi setelah mendengarkan rekaman burukmu ini!

Adalah hal yang menyedihkan ketika mengetahui bahwa emo terdengar seperti album ini. Genre musik emo memang selalu memiliki beberapa karakteristik yang menjengkelkan, serta tumpukan patah hati yang dipoles dan dibungkus dengan gaya baru ini berhasil membangun karier mereka di blantika musik hanya semata-mata karena karakteristik itu. Rengekan patah hati, lirik yang mengekspos sisi emosional, dan chorus yang penuh gairah ada di sana, namun semua itu berjalan tanpa ketulusan, kreativitas, dan ciri khas yang memuaskan. []

* * * * *

— Daftar Lagu A Fever You Can’t Sweat Out
1) Introduction [instrumental]
2) The Only Difference Between Martyrdom and Suicide Is Press Coverage
3) London Beckoned Songs About Money Written by Machines
4) Nails for Breakfast, Tacks for Snacks
5) Camisado
6) Time to Dance
7) Lying Is the Most Fun a Girl Can Have Without Taking Her Clothes Off
8) Intermission [instrumental]
9) But It’s Better If You Do
10) I Write Sins Not Tragedies
11) I Constantly Thank God for Esteban
12) There’s a Good Reason These Tables Are Numbered Honey, You Just Haven’t Thought of It Yet
13) Build God, Then We’ll Talk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s