Stone Temple Pilots with Chester Bennington: “High Rise (EP)” (2013)

MESKI menyukai musik grunge, saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya. Perkenalan pertama kali saya dengan grunge adalah ketika mulai mendengarkan Pablo Honey (1993) dan The Bends (1995) — dua album awal Radiohead yang masih dikategorikan sebagai rekaman grunge — pada pertengahan 1999, serta album Nevermind (1992) dari Nirvana dan Vs. (1993) dari Pearl Jam pada tahun 2000. Saya menikmati semangat dan distorsi dari empat rekaman album tersebut, namun tidak pernah benar-benar mendaku diri sebagai fans musik grunge sejati — saya lebih suka mencitrakan diri sebagai anak punk rock dengan referensi musik dari Sex Pistols, Green Day, Good Charlotte, Bad Religion, Anti-Flag, dan band-band semacamnya. Saat mengetahui fakta dari seorang kawan — yang kasih dengar lagu Come as You Are untuk pertama kalinya kepada saya waktu itu — bahwa vokalis Nirvana, Kurt Cobain, sudah mati bunuh diri pada tahun 1994, dan Pearl Jam ternyata berubah menjadi grup musik membosankan di era 2000an, praktis saya hanya mengikuti dan (semakin) mencintai Radiohead saja sampai sekarang.

Stone Temple Pilots? Saya baru tahu band ini di awal 2006 dari salah satu kawan yang, entah kenapa, selalu menyetel lagu-lagu Stone Temple Pilots setiap kali saya main ke rumahnya. Saya akhirnya mulai terbiasa dengan rintihan dari nomor Lady Picture Show, kehampaan dalam materi Big Empty, dan keglamoran lagu Big Bang Baby. Suara definitif Stone Temple Pilots bakal selalu menjadi milik mendiang Scott Weiland, namun sebagian besar musik dan lagu mereka yang paling laris selalu dikreditkan kepada DeLeo Bersaudara (Robert [pemain bas] dan Dean [gitaris]). Dengan kesuksesan yang telah diraih di belantika musik dan dengan kepercayaan diri dalam gaya penulisan komposisi lagunya, DeLeo Bersaudara — bersama dengan drumer Eric Kretz — seolah mengambil-alih kepemilikan Stone Temple Pilots, memecat dan terus melaju tanpa Weiland dengan EP bertajuk High Rise pada tahun 2013. Oh iya, hampir lupa, DeLeo Bersaudara menunjuk Chester Bennington ([mantan] vokalis Linkin Park) sebagai vokalis utama Stone Temple Pilots sebelum akhirnya Bennington gantung diri pada 20 Juli 2017 kemarin.

Di situlah letak permasalahannya. (Dan saya tidak sedang membicarakan tragedi kematian Bennington di sini.) Bagi saya pribadi, EP Stone Temple Pilots ini adalah sebuah kegagalan. Setelah beberapa kali mendengarkan album-album awalnya, mendiang Weiland dan Stone Temple Pilots adalah dua hal yang berjalan beriringan sedemikian rupa dan saling melengkapi, sehingga saya tidak bisa membayangkan bagaimana Stone Temple Pilots tanpa mendiang Weiland. Stone Temple Pilots with Chester Bennington tidak melakukan upaya apa pun untuk membersihkan kekacauan hubungan (yang berujung pada perceraian) Stone Temple Pilots dan Weiland. Dan — yang lebih menyedihkan dan lebih buruk, meski bisa ditebak — lima nomor yang ada di EP kali ini juga tidak mampu melakukannya, tidak mampu memberikan gairah Stone Temple Pilots saat Weiland masih menjadi pentolan band mereka.

Sederhananya, Stone Temple Pilots seharusnya pergi ke arah lain untuk mencari vokalis baru sejak memutuskan memecat Weiland pada 27 Februari 2013. Tidak diragukan lagi bahwa Bennington menghadirkan variasi baru bagi Stone Temple Pilots melalui raungan nu metal-nya, namun entah kenapa, Bennington terkesan terbebani dan malah terdengar meniru Weiland dengan cara yang paling tolol. Materi Out of Time yang diikuti oleh Black Heart membuka High Rise dengan biasa-biasa saja; dua lagu itu terdengar medioker di bawah kendali Bennington, dan saya berandai-andai membayangkan pesona menggairahkan jika Weiland yang membawakannya. Secara musikal, kekuatan Stone Temple Pilots tidak melemah karena DeLeo Bersaudara terus menemukan lebih banyak inspirasi dalam “rock klasik” ketimbang “grunge” — terutama dalam lagu Cry Cry — namun tetap saja EP ini terdengar tidak nyaman di kuping saya.

Stone Temple Pilots with Chester Bennington adalah Queen + Paul Rodgers yang baru, dan mereka hanyalah seperempat bagian dari band mereka yang dulu. Penggemar Linkin Park garis keras pasti bisa menemukan berbagai macam alasan dan pembenaran untuk bersuka-cita saat mendengarkan raungan Bennington dengan band mana pun, namun penyuka Stone Temple Pilots — macam kawan saya itu — pasti kecewa dengan EP ini. High Rise adalah bukti serius bahwa imitasi adalah bentuk “sanjungan” yang lain, namun bukan berarti itu otomatis menjadi sesuatu yang berharga. Dan, juga, tulisan ini adalah bentuk “sanjungan” saya yang lain untuk Bennington dan kisah tragisnya.

RIP Scott, RIP Chester: sampaikan salam untuk ayah saya di dunia entah-berantah sana. []

* * * * *

— Daftar lagu High Rise (EP) —
1) Out of Time
2) Black Heart
3) Same on the Inside
4) Cry Cry
5) Tomorrow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s