Thom Yorke: “Tomorrow’s Modern Boxes” (2014)

AS an experiment…” menjadi kalimat pembuka press release dari Thom Yorke dan produsernya, Nigel Godrich, saat meluncurkan album solo keduanya bertajuk Tomorrow’s Modern Boxes pada tahun 2014 lalu. “Eksperimen” yang dimaksud Yorke dan Godrich ini dirancang untuk memecahkan masalah yang dialami oleh industri musik sejak masa kejayaan Shawn Fanning: bagaimana caranya meyakinkan orang-orang yang hidup di era digital saat ini menyisihkan uangnya untuk membayar (secara “legal”) sebuah rekaman musik. Dan ini tergolong unik, jika bukan orisinal, bagi artis sekaliber Yorke: sebuah sistem pembayaran yang dikelola oleh versi perangkat lunak berbagi berkas digital (BitTorrent) yang mengandalkan penggunanya untuk berbagi potongan kecil berkas digital agar bisa tersebar secara keseluruhan. “If it works well it could be an effective way of handing some control of internet commerce back to people who are creating the work,” ujar Yorke dan Godrich dalam press release-nya; ini adalah sentimen yang sangat berbeda dari yang pernah diungkapkan oleh manajemen Radiohead setelah merilis In Rainbows pada tahun 2007 saat mereka mendeskripsikan pendekatan pay-what-you-want untuk album tersebut sebagai “solusi bagi Radiohead, bukan industri musik”.

Mengesampingkan keterlibatan BitTorrent, Yorke dan Godrich pada dasarnya telah merilis musik untuk dijual dalam waktu singkat, suatu hal yang juga pernah dilakukan Radiohead pada 2011 saat merilis album The King of Limbs. Pada tahun 2013, kejutan yang dipicu oleh album self-titled rilisan Beyoncé merupakan isyarat pergeseran generasi enam tahun setelah In Rainbows: slogan “Pulling a Radiohead” digantikan oleh “Pulling a Beyoncé”. Di ujung lain spektrum, pendekatan yang sama yang dilakukan oleh U2 dan Jay-Z disambut dengan sinisme dan penghinaan. Dibandingkan dengan kampanye berprofil tinggi sebelum-sebelumnya, sambutan saya ketika pertama kali mendengarkan delapan trek di Tomorrow’s Modern Boxes (dan pendekatan atau metode pemasarannya) pada saat itu adalah antusiasme yang biasa-biasa saja, semacam “Um, okelah” dengan ekspresi wajah datar.

Untuk ukuran rekaman solo dari anggota salah satu unit musik rock paling keren sedunia, nyaris semua hal tentang album ini terasa terlalu tipis, sepele, dan enteng: video klip untuk single utama album ini, A Brain in a Bottle, adalah pengulangan yang hambar dari klip Lotus Flower (di album The King of Limbs) dan Ingenue (di album Amok [2013] rilisan Atoms for Peace); judulnya, yang seolah-olah sebuah komentar sinis tentang perdagangan digital, terdengar seperti sebuah slogan korporat bangsat untuk perusahaan pelayaran; harganya pada waktu itu sekitar $6 untuk album berisi delapan lagu yang biasanya dijual setidaknya seharga $9 di pengecer digital; durasi waktunya yang “hanya” 38 menit, album non-Radiohead terpendek yang pernah melibatkan Yorke; serta artwork-nya yang biasa-biasa saja dan gampang dilupakan. Yorke — dan Radiohead — telah menghabiskan dua dekade terakhir untuk mencoba menjauhi keglamoran status selebritinya, namun bahkan dengan ukuran itu, penyajian album ini masih terasa aneh.

Hal yang sama juga berlaku untuk musiknya, yang merepresentasikan ketertarikan dan pelukan terkuat Yorke terhadap efek-efek suara elektronik sampai saat ini. Radiohead mewujudkan dan menyajikan ide bahwa unit musik rock masih bisa menghasilkan suara sonik-elektronik yang terdengar sedap di kuping, bahkan album mereka yang paling eksperimental sekali pun punya denyut jantung yang syahdu; album solo pertama Yorke, The Eraser (2006), terasa dingin dalam eksplorasi elektroniknya namun tetap mempertahankan melodi dan atmosfer kepedihan, sementara Amok — album debut yang terlupakan dari supergrup Atoms for Peace bikinan Yorke — mengontraskan kecenderungan bleep-bloop elektronik dengan perasaan band yang nyata. Dalam Tomorrow’s Modern Boxes, garis yang memisahkan antara mesin dan manusia telah nyaris hilang, dengan vokal Yorke bercampur mulus ke dalam tekstur yang ringan dan ketukan yang agak gagap. Hasilnya adalah salah satu pencapaian karier Yorke yang paling menantang — ada sedikit keindahan yang cukup berharga untuk diperhatikan dalam hal perasaan dan melodinya, namun saya hampir tidak ikut bersenandung ketika mendengarkan apa-apa disajikan oleh album ini.

Dengan kata lain, beberapa elemen tertentu dari Tomorrow’s Modern Boxes bakal menjadi lebih menyenangkan untuk dinikmati jika diberi jumlah perhatian yang tepat. Materi Pink Section membawa suara piano yang lebih dekonstruksi — suara non-sintetis yang paling menonjol yang sering muncul di album ini — ke tengah-tengah siulan dan lolongan rendah, yang mengalir dan menyatu dengan baik ke penutup album ini, Nose Grows Some, campuran nada yang berkelok-kelok dan struktur irama yang kuat dengan Yorke memproyeksikan kehadiran vokal yang elok di garis terdepan. Nomor The Mother Lode berdurasi enam menit tujuh detik di pertengahan album dipaparkan dengan percampuran sampel vokal-abstrak berlapis dan gaya ritme elektronik melompat-lompat yang menyatu dengan kelembutan falsetto Yorke, sebelum mencapai klimaks dengan penyimpangan tanpa kata-kata yang indah. Guess Again! adalah lagu yang paling mirip dengan karya-karya Radiohead sebelumnya di album ini, sebuah kombinasi dari jepretan piano bertempo sedang dan ketukan drum elektronik bertempo agak cepat yang renyah, serupa sisi lain dari trek Pyramid Song di album Amnesiac (2001).

Namun, pada sebagian momen lainnya, Tomorrow’s Modern Boxes tergelincir ke dalam kebosanan yang menjemukan. Nada yang melengking dalam trek Truth Ray hanya berdiam diri di satu tempat saja, bukannya membangun resolusi apa pun. Dan Interference, materi yang paling monoton dan tidak berujung di album ini, mewakili stasis yang serupa; “I don’t have the right to interfere,” Yorke bernyanyi dalam (anti-)chorus lagu ini, menggaris-bawahi kepasifan album ini. Sementara pukulan yang lemah dan motif yang goyah dari A Brain in a Bottle, bersamaan dengan ekskursi tujuh menit dalam There Is No Ice (For My Drink), menyajikan pendekatan kasar dan tidak menarik dari eksperimentasi Yorke dengan musik dansa.

Dengan beberapa trek yang kembang-kempis, Tomorrow’s Modern Boxes merupakan karya yang paling sederhana (dan paling tidak memuaskan di kuping saya) dari kanon Yorke sampai saat ini yang mengisyaratkan bahwa Yorke masih “manusia biasa” yang terkadang mengalami kebuntuan kreativitas dan pernah melakukan kecerobohan dalam bereksperimentasi. Setelah kebosanan menjemukan yang didapatkan dari album ini, saya memilih untuk segera menuntaskan rindu pada kekasih yang masih mendendam dan membunuh kekecewaan dengan secangkir kopihitam, beberapa batang rokokputih, dan A Moon Shaped Pool (2016) — rilisan art rock superkeren dari Yorke setelah album ini yang bakal memb~

~ bangsat, lupa matiin kompor! []

* * * * *

— Daftar lagu Tomorrow’s Modern Boxes
1) A Brain in a Bottle
2) Guess Again!
3) Interference
4) The Mother Lode
5) Truth Ray
6) There Is No Ice (For My Drink)
7) Pink Section
8) Nose Grows Some

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s