Sigur Rós: “( )” (2002)

( ) adalah judul album ketiga Sigur Rós — grup musik post-rock asal Islandia — yang tidak bisa dilafalkan dan dirilis pada tahun 2002. Manusia adalah makhluk kreatif, dan mereka bakal menemukan cara untuk merujuk atau mengucapkan judul album ini dalam satu atau cara lainnya. Ketika ingin menceritakan atau memberi tahu kawan saya tentang album ini secara lisan, saya biasanya menyebutnya dengan “selangkangannya Sigur Rós”, “album tanda kurung dari Sigur Rós”, atau “album ketiga Sigur Rós”. Namun sayangnya, atau sialnya, trik muslihat album ini tidak berakhir pada absurditas judulnya saja: lebih dari sekadar rekaman musik tanpa judul yang berisikan delapan lagu tanpa judul dan ketiadaan catatan liner (kredit atau info lengkap album ini bisa dilihat di situs resmi Sigur Rós atau halaman Wikipedia-nya), ( ) juga dilengkapi dengan buklet berisi 12 halaman kosong. (Modar kowe, gusti kanjeng ratu!) Saya gagal memahami bagaimana taktik absurd ini bisa memperkaya balada sinematik Sigur Rós. Seni, menurut saya, selalu menjadi anak seniman: dia layak dikasih nama.

(Pada tahun 1953 silam, Robert Rauschenberg — seniman lukis asal Amerika Serikat — pernah membikin proyek pameran lukisan yang berisikan sekumpulan kanvas yang sekilas tampak kosong dan masih putih-bersih. Namun lukisan-lukisan dalam pameran tersebut tidak benar-benar kosong, hanya saja Rauschenberg melukis kanvasnya dengan cat putih. Dalam hal ini, Rauschenberg ingin membincangkan persepsi kekosongan yang sebenarnya tidak pernah ada. Kekosongan hanyalah persepsi, sama seperti keheningan, titik nol, atau ketidak-berpihakan.)

Sigur Rós, tentu saja, telah mengklaim bahwa 12 halaman kosong dalam buklet albumnya itu dimaksudkan untuk melayani sebuah tujuan tertentu. Di sini, Sigur Rós mengajak siapa saja untuk menguraikan lirik “Vonlenska” / “Hopelandic”: struktur kata tanpa arti atau bahasa non-literal tanpa makna yang membentuk lirik yang tidak bisa dipahami yang dinyanyikan oleh vokalis-gitaris mereka, Jónsi, pada beberapa lagunya. Bagi saya, hal ini tampak transparan seperti buklet albumya — bukti bahwa Sigur Rós mengemas rekaman ini dengan cara yang keren sekaligus absurd, dan petunjuk terbesarnya terletak pada liriknya. Atau, saya harus menulisnya dengan “lirik” atau (lirik): terlepas dari trek nomor lima, Untitled (“Álafoss”), dan beberapa bagian dari trek nomor enam, Untitled (“E-Bow”), ada kurang-lebih sebelas suku kata yang dinyanyikan oleh Jónsi di album ini (salah satu contohnya: “You xylo. You xylo no fi lo. You so.”). Baris kata di sini didekonstruksi sedemikian rupa selama 71 menit durasi albumnya untuk mengejek setiap upaya penafsiran.

Juga, kamu mungkin menyadari di paragraf sebelumnya bahwa saya menuliskan judul dua lagunya meski sebelumnya di paragraf pembuka tulisan ini saya bilang bahwa ( ) adalah sebuah album “yang berisikan delapan lagu tanpa judul”. Hal ini karena, bertentangan dengan “ketiadaan catatan liner” di kemasan albumnya, delapan lagu yang ada di sini sebenarnya memiliki subjudul. Perlakuan standar untuk memerinci rekaman absurd yang dirilis dalam kemasan minimalis yang misterius tampaknya memang tidak sesuai, namun saya yakin hal ini tidak bakal dianggap sebagai gangguan yang cukup berarti bagi fans berat Sigur Rós atau penikmat musik yang baru mengetahui dan mendengarkan band ini pada masa sekarang. ( ) bakal membawa dan menenggelamkan kita — saya dan kamu — pada kombinasi nada yang “syahdu, subur, menyayat jantung, berputar-putar, memesona, nikmat, menggugah, glasial, gemilang”, nyaris sama seperti yang dilakukan oleh rilisan Sigur Rós sebelum dan sesudah ini: Ágætis byrjun (1999) dan Takk… (2005). Jónsi merupakan vokalis yang dilengkapi dengan falsetto paling cantik yang pernah saya dengar sejak Thom Yorke muncul pertama kali dari kepompong grunge, dan — dengan cara yang sama ketika mendengarkan Radiohead — ketepatan bukanlah prasyarat untuk menikmatinya.

Musik Sigur Rós memiliki semua resonansi, kemanusiaan, dan kedalaman dari lanskap lukisan Landscape with the Fall of Icarus karya Pieter Bruegel the Elder, dan sangat pas untuk disetel dengan volume sekeras mungkin di tempat terbuka ditemani secangkir kopihitam dan sebungkus rokokputih dalam dekapan sang kekasih, sebagai soundtrack untuk momen dan pemandangan yang nyata atau imajiner. Nomor Untitled (“Njósnavélin”) yang ada di pertengahan ( ) berfungsi sebagai contoh yang menakjubkan — salah satu materi paling menghantui yang pernah ditulis oleh Sigur Rós di mana gesekan gitar Jónsi melepaskan melodi mendesak yang seolah-olah bergema dalam dinding batu yang lembab, yang diawali oleh organ katedral, dan kemudian oleh lonceng yang berkedip-kedip yang mencerminkan nuansa dingin dari artwork rekamannya. Lagu ini adalah aplikasi terbaik dari pendekatan Sigur Rós yang agak rumit.

Album ini terbagi dalam dua kelompok (masing-masing berisi empat lagu) dengan jeda 30 detik yang ada di bagian akhir trek Untitled (“Njósnavélin”). Ini merupakan manuver yang biasa dilakukan oleh sejumlah grup musik untuk meniru kebebasan artistik dari rekaman piringan hitam dan kaset yang memiliki dua sisi yang terpisah dan berbeda. Bagian pertama dari album ini adalah rekaman kehangatan studio, penuh dengan gema yang sangat beragam. Jónsi menggeser rentang vokalnya yang sudah cukup tinggi ke wilayah yang lebih tinggi lagi, menghadirkan pembuka analog Untitled (“Vaka”) dengan campuran media lainnya. Lagu ini mengembik seperti rengekan anak kecil yang membangunkan ayahnya saat tengah malam, dan rengekannya semakin keras sebelum akhirnya ambruk, terdiam kelelahan, di pelukan hangat ibunya. Sayangnya, nomor Untitled (“Samskeyti”) adalah jiplakan Untitled (“Vaka”) yang mengurangi resonansinya ketika didengarkan secara berulang.

Paruh kedua album ini kembali ke suara sederhana dari sesi jam sepuluh menitan pasca-Pink Floyd di Ágætis byrjun — bagian dalam materi Untitled (“Álafoss”) dan Untitled (“Dauðalagið”) memberi tanda dan anggukan tertentu pada The Dark Side of the Moon, album rilisan Pink Floyd di tahun 1973. Sementara lagu pamungkas di album ini, Untitled (“Popplagið”), adalah kembaran yang lebih kalem dari trek Knives Out-nya Radiohead di album Amnesiac (2001), dan sampai sekarang saya masih berharap Sigur Rós dan Radiohead merilis sebuah album kolaborasi.

Saya merasa bahwa lagu-lagu yang ada di album ini tidak memiliki makna sebenarnya yang universal: satu-satunya petunjuk adalah Sigur Rós selalu menyertakan gambar buram dari anak-anak kecil, dari masa kanak-kanak yang telah lalu, di setiap konser promosi album ini — entah itu ingin bercerita tentang akhir masa kecil atau kepolosan atau kiasan melelahkan lainnya, saya tidak tahu secara pasti. Yang jelas, ( ) adalah album musik yang menenangkan dan mengesankan, namun tidak bersinar secerah pendahulunya dan hanya dikemas dengan lebih absurd. []

* * * * *

— Daftar lagu ( )
1) Untitled (“Vaka”)
2) Untitled (“Fyrsta”)
3) Untitled (“Samskeyti”)
4) Untitled (“Njósnavélin”)
5) Untitled (“Álafoss”)
6) Untitled (“E-Bow”)
7) Untitled (“Dauðalagið”)
8) Untitled (“Popplagið”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s