Yume Bitsu: “Golden Vessyl of Sound” (2002)

YUME Bitsu — unit musik shoegaze / post-rock / psychedelic rock asal Kota Portland, Oregon, Amerika Serikat — bereksistensi selama tujuh tahun (1995-2002) di belantika musik dengan merilis empat album, dan tiga dari empat personelnya membagi waktu mereka dengan membikin banyak proyek sampingan: vokalis/gitaris Adam Forkner berkolaborasi menciptakan musik drone-rock surealis bersama Surface of Eceon; pemain keyboard Alex Bundy pernah merilis materi album solo dengan tajuk Planetarium Music (2000); dan drumer Jason Anderson memimpin grup musik Wolf Colonel. Auspicious Winds, album ketiga Yume Bitsu yang dirilis pada akhir tahun 2000, merupakan sesi kegembiraan nyaris sempurna yang menggemakan Lazer Guided Melodies (debut album dari Spiritualized pada 1992), bukan hanya dalam suara dan ruang lingkupnya, namun juga karena jalinan melodi space rock-nya yang, setelah beberapa menit yang melenakan, akhirnya tiba pada keindahan dari lagu-lagu pop yang sangat menarik.

Golden Vessyl of Sound, album pamungkas dari Yume Bitsu, adalah semacam mitos yang melibatkan ngengat, kupu-kupu, kapal antarplanet, mercusuar, pinggiran pantai, dan senja sorehari yang melodius. Ada sebuah cerita yang terbentang di sini, meski narasi ceritanya tidak terhubung erat dengan kenikmatan rekamannya. Ketika saya mendengarkan sembilan lagu di album ini, yang melayang-layang dari tekstur shoegaze klasik ke psychedelic rock akhir ‘60an, imajinasi pikiran saya mengembara ke banyak hal sampai akhirnya, pada satu titik, saya menemukan refleksi dari citra diri saya sendiri.

Dalam press release album ini 15 tahun yang lalu, Yume Bitsu menyebutkan bahwa sembilan lagu yang ada di sini tercipta dari improvisasi dan sengaja tidak diberi judul lagu untuk menghormati kesucian “momen” improvisasi tersebut. Dengan demikian, Yume Bitsu — hampir mirip dengan yang dilakukan oleh Sigur Rós di album ( ) (2002) — ingin siapa pun untuk menginterprestasikan sendiri maknanya, untuk mengacu pada suara yang muncul ketika menyetel album ini. “Trek nomor tiga” di album ini, misalnya, merupakan cuplikan cantik dari kumpulan melodi menenangkan dan indah yang selalu saya tandai dengan judul We Will Be Together. Judul itu merupakan kata-kata yang diselaraskan oleh Forkner di pertengahan lagu yang terdengar seperti sapaan lembut cum harapan manis dari kekasih saya, Si Nyonya Tua V, di pagihari setelah menikmati “tidur nyenyak bersama”. Ini adalah lagu yang begitu sederhana, dengan suara gitar yang mengawang di antara dua chord dan kemurnian yang menyakitkan dari vokal berlapis. Dan setelah dua menit, lagu ini berakhir dengan syahdu: sebuah ketangkasan, atau semacam ketukan yang langka, dalam sebuah album musik yang penuh dengan jam ekspansif.

Meski hanya muncul sesekali di album ini, suara vokal Forkner adalah faktor besar yang membikin album ini terasa kian istimewa. Kuping saya telah terbiasa dengan jalinan jam monoton yang terkubur di antara lembaran feedback gitar dari grup-grup musik shoegaze, dan bagi saya, vokal Forkner menjelma layaknya “instrumen lain” yang menyempurnakan album ini. Adalah sebuah penyimpangan yang menyenangkan saat mendengar vokal Forkner sesekali muncul dengan lembut dan hati-hati di album yang dikemas dengan eksplorasi antargalaksi ini. Harmoni yang ada pada “materi nomor tujuh” — sebuah lagu yang penuh dengan suara kepak sayap ngengat dan kupu-kupu, serta diselingi oleh pukulan snare drum dan tepuk tangan — dirakit dengan presisi tertentu, terdengar seperti suara gelombang radio AM yang berisik tapi menggugah. Namun, tetap saja, faktanya adalah bahwa album ini berisikan 90% materi instrumental yang terasa tepat sampai bagian akhirnya, meningkatkan dampak emosional vokal secara eksponensial.

Tentu saja, seperti halnya grup musik dengan dua gitaris yang mengkhususkan diri pada alunan jam panjang dan lambat, bebunyian melodi dari enam senar adalah inti segalanya, dan gitaris Yume Bitsu berhasil mengekstrak sejumlah suara fantastis dari musik mereka. Kehalusan gema nada yang menyertai klimaks lagu pembuka album ini pantas dipantulkan di sekitar ngarai mana pun. Dikombinasikan dengan vokal prima “eeee-yaahhh” dari Forkner dan bunyi terompet berlapis, lagu ini berubah menjadi aural yang setara dengan kemesraan dan kehangatan momen matahari terbit. “Trek nomor enam” mengganti sebuah feedback drone yang terkontrol dengan distorsi fuzztone yang linier, sementara suara gitarnya diselaraskan dengan trombon drone yang diperpanjang. Dan lagu terakhir di album ini memadukan program drum bergaya intelligent dance music (IDM) dengan jalinan suara synthesizer dan gitar yang saling terkait.

Meskipun memiliki sisi dan aura gelap (terutama suara drone di “materi nomor enam”), Golden Vessyl of Sound tetap mampu bersinar dengan syahdu dan positif seperti arti dari judul albumnya sendiri. Yume Bitsu adalah suara dari empat lelaki yang sangat mencintai musik dan tahu bagaimana caranya menyalurkan energi kolektif mereka. Golden Vessyl of Sound adalah mitos maya dan kutukan psychedelic ternikmat bagi saya — dan bagi siapa saja — yang sudah bosan dengan banalitas dunia nyata. []

* * * * *

— Daftar lagu Golden Vessyl of Sound
1) [untitled]
2) [untitled]
3) [untitled]
4) [untitled]
5) [untitled]
6) [untitled]
7) [untitled]
8) [untitled]
9) [untitled]

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Abdul Jalil says:

    Belum pernah denger nama band dan musiknya mas..Referenasi musiknya mantap mas

    Like

    1. terimakasih. 🙂 referensi di blognya sampeyan juga oke punya. :-bd

      Like

      1. Abdul Jalil says:

        Masih belajar nulis nih mas,belum maksimal penyampaiannya..

        Like

      2. Abdul Jalil says:

        Mkasih mas.tpi masih belajar nulis nih mas,belum maksimal penyampaiannya..

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s